Gumam pagi
Selamat menjelang pagi,
Selamat datang Oktober, bulan penuh penantian.
Entah apa yang saya nantikan, mungkin karena di
bulan ini saya dilahirkan jadi saya selalu menatikan hal baru di bulan ini. Entah yang bisa
membuat saya bahagia, tertawa atau malah sebaliknya. Yang pasti saya tetap
menantikannya karena ketika (pada tanggal saya dilahirkan) itulah saya bisa menulis
sekarang. Saya bisa bernafas, menatap segala keindahan ciptaanNya. Tumbuhan, hewan bahkan manusia.
Jika kita membahas mengenai ciptaanNya, mungkin
tulisan saya ini tidak ada akhirnya karena saya sangat mengagumi ciptaanNya.
Khususnya keindalahan alam yang diciptakan Tuhan. Langit biru yang sangat indah
(sebenarnya saya selalu ingin mengganti kata ‘indah’ menjadi sebuah kata yang
mendefinisikan sangat-sangat sangat indah tapi hingga saat ini saya masih belum
menemukannya jadi ketika saya menuliskan kata indah itu berarti sangatlah
indah, bahkan lebih dari indah), pepohonan hijau ditambah dengan hembusan angin yang
sangat menyejukkan. Huwah momen itu sangat dinantikan, indah sekali.
Setiap kali saya berjalan kaki, ataupun berkendara
saya selalu menikmati momen saat itu. Disaat saya berada di antara keindahan
Tuhan. ‘Betapa bersyukurnya bisa melihat dan merasakan ciptaanMu Tuhan.’ J meskipun saya berada di tengah kota yang padat
dengan penduduk dan kendaran, saya tetap bersyukur bisa merasakan ramainya
ibu kota ini. Selalu ada keindahan di setiap bagian yang katanya 'tidak indah'.
.
.
.
.
Terlepas dari keindahan ibu kota Jakarta, saya pun
sangat beryukur hidup di negeri yang mempunyai jutaan pulau. Saya termasuk
dalam salah satu masyarakat pecinta pantai. Siapa yang tidak suka pantai? Suara
ombak yang meneriakkan sebuah pesan.
.
.
.
Terima kasih Tuhan untuk segala ciptaanMu yang sangat
indah. Terima kasih aku hidup di antara mereka yang menyayangiku, menjagaku, dan
menemaniku. Terima kasih Engkau selalu hadir kapanpun, terima kasih atas
segalanya. Terima kasih Tuhan.
Aku, pengagum setiamu.
x


Comments
Post a Comment