Gumam malam - Krisis Kepedulian Kian Terasa
Halo, malam.
Tak pernah bosan ya saya untuk menyapa malam karena di waktu malam adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal yang orang gak bisa lihat. Waktunya untuk menyendiri di kamar, bersama semua pemikiran dan rasa yang tak karuan. Waktu yang tepat untuk bisa mengenal diri lebih jauh, melalui aktivitas seharian penuh di luar kamar dan contemplating.
Mungkin benar, setiap orang membutuhkan privasinya masing-masing tanpa diketahui siapapun. Kalau kamu tahu drama korea "Because This is My First Life" pasti kamu tahu scene ketika Ji Ho menceritakan tentang novel favoritnya di masa kuliah kepada suaminya, yaitu Se Hee. Novel itu berjudul 'Kamar 19' menceritakan tentang kehidupan suami istri yg harmonis dengan keluarga kecilnya. Singkat cerita, sang istri mempunyai satu kamar yang kemudian dia gunakan untuk menyendiri, namun semakin lama kamar itu beralih fungsi menjadi tempat bermain anak-anak dan saudaranya. Hingga akhirnya ia menyewa satu kamar yang jauh dari rumahnya tanpa diketahui suaminya. Sang istri begitu sering menyendiri di kamar, hingga akhirnya sang suami menuduh istrinya selingkuh dan istri membenarkan hal itu karena ia lebih memilih sendiri di sana.
Begitulah cerita singkatnya, menurut saya sendiri, novel itu menarik. Sayangnya, saya belum tahu siapakah penulis novel tersebut. Memang benar ada novel fiksi seperti itu atau memang hanya dihadirkan oleh sutradara sebagai penyokong cerita.
Berhubung dengan cerita, tersebut.... Sepertinya setiap manusia memang membutuhkan privasi sendiri (seperti yang saya ungkapan sebelumnya). Butuh udara segar, hanya untuk sekedar merenung, instropeksi diri atas segala yang selama ini terjadi.
Hal ini mungkin bisa dilakukan hanya sesekali saja, jangan terlalu sering. Entah apa yang terjadi setelahnya jika kita terlalu sering menyendiri. Saya bukan ahli psikolog, saya hanya manusia biasa yang haus akan ilmu. Saya selalu ingin mencari tahu segala yang sedang terjadi. Karena menurut saya ilmu psikologi, politik, kebudayaan atau apapun itu penting dan dibutuhkan dalam segala hal. Sekecil apapun pekerjaanmu, ilmu tersebut nantinya akan dibutuhkan dan pastinya akan memberi hal positif nantinya...
Saya selalu percaya itu, terkadang, bahkan, saya lelah dengan orang-orang yang mencibir karena pendapatnya di sosial media. 'Ih dia sok ngerti politik banget' 'dah kita mah apa atuh cuma rakyat biasa, gak mau ngurusin begituan' khususnya di bidang politik, tentunya. Memang banyak akhir-akhir ini netizen berpendapat. Menurut saya sendiri, itu hal yang wajar, kita sebagai rakyat juga memiliki kewajiban untuk menjaga negeri Indonesia dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, bukan? Namun harus tetap pada etika bersosial media dan masih berlandaskan ilmu yang dia tahu a.k.a gak asal nyeplos aja. Saya yakin kok, mereka yang berpendapat itu pasti pernah membaca hal yang dia utarakan itu, gak mungkin dong utukutuk dia langsung nyelenong bahas politik tanpa tahu apa-apa. Kalo memang kenyataannya ada yang seperti itu, anda bisa berpendapat yang lain hehehe
Yaitu pendapat saya sih karena sering melihat sosial media. Intinya terserah kalian mau ngomong apa, yang pasti kalian juga harus tanggung jawab dan tahu konsukuensinya kalo berpendapat seperti itu di sosial media. Pro dan kontra itu hal yang wajar sekali, semua orang bebas untuk memihak tim yang mana. Ya tetep, intinya yang penting gak melenceng dari etika bersosial media.
Hm, oke kembali ke topik contemplation itu.
Semakin dewasa ini, saya semakin merasa krisis kepedulian. Semua orang yang awalnya sedekat nadi bisa sejauh bumi dan langit (hiperbola). Tapi ya benar adanya, mungkin karena sudah memasuki dunia kerja kali ya. Lokasi kantor udah jauh, titik temunya entah dimana. Waktupun sudah banyak dihabiskan di kantor. Tapi,sebenarnya masih bisa meluangkan waktu 'jika memang masih ingin banget ketemu'. Misal, saya sering kok setelah pulang kantor ketemuan di cafe terdekat kantor kita. Untungnya, letak kantor kita waktu itu tidak terlalu jauh. Mungkin karena alasan itu kita masih bisa bertemu ya. Hm, tapi saya yakin kalo ada niat pasti masih bisa memanfaatkan dan meluangkan waktu untuk bertemu kok.
Di luar itu, kepedulian terhadap sesama ataupun mkhluk hidup lainnya juga semakin gak karuan. Ada kasus persekusi pemerkosaaan lah, kasih minuman keras ke binatang lah, ada juga yang nabrak tiang listik yang tak berdosa. Duh semuanya menggambarkan matinya perasaan manusia kali ya? (hiperbola lagi). Tapi bener, saya sesedih itu melihat semua berita. Hati nuraninya sudah pada habis dimakan teknologi apa gimana ya?(((
Please, sekaya-kayanya atau sepintar-pintarnya orang, hati nuraninya juga tetap dijaga. Pun kalian tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan, ya itu terserah. Yang penting tetap punya hati untuk menghargai, menghormati kepada siapapun. Dan pertanyaan yang selalu saya pikirkan ketika melihat manusia-manusia itu adalah 'Pernah gak ya mereka membayangkan atau memposisikan diri sebagai objek yang mereka jahatin? Rasanya gimana tuh? Apa kalian akan melakukan hal yang sama seperti mereka (korban)?'
So, please, reflects before you act!
Sekian dari cerita malam ini.
Tak pernah bosan ya saya untuk menyapa malam karena di waktu malam adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal yang orang gak bisa lihat. Waktunya untuk menyendiri di kamar, bersama semua pemikiran dan rasa yang tak karuan. Waktu yang tepat untuk bisa mengenal diri lebih jauh, melalui aktivitas seharian penuh di luar kamar dan contemplating.
Mungkin benar, setiap orang membutuhkan privasinya masing-masing tanpa diketahui siapapun. Kalau kamu tahu drama korea "Because This is My First Life" pasti kamu tahu scene ketika Ji Ho menceritakan tentang novel favoritnya di masa kuliah kepada suaminya, yaitu Se Hee. Novel itu berjudul 'Kamar 19' menceritakan tentang kehidupan suami istri yg harmonis dengan keluarga kecilnya. Singkat cerita, sang istri mempunyai satu kamar yang kemudian dia gunakan untuk menyendiri, namun semakin lama kamar itu beralih fungsi menjadi tempat bermain anak-anak dan saudaranya. Hingga akhirnya ia menyewa satu kamar yang jauh dari rumahnya tanpa diketahui suaminya. Sang istri begitu sering menyendiri di kamar, hingga akhirnya sang suami menuduh istrinya selingkuh dan istri membenarkan hal itu karena ia lebih memilih sendiri di sana.
Begitulah cerita singkatnya, menurut saya sendiri, novel itu menarik. Sayangnya, saya belum tahu siapakah penulis novel tersebut. Memang benar ada novel fiksi seperti itu atau memang hanya dihadirkan oleh sutradara sebagai penyokong cerita.
Berhubung dengan cerita, tersebut.... Sepertinya setiap manusia memang membutuhkan privasi sendiri (seperti yang saya ungkapan sebelumnya). Butuh udara segar, hanya untuk sekedar merenung, instropeksi diri atas segala yang selama ini terjadi.
Hal ini mungkin bisa dilakukan hanya sesekali saja, jangan terlalu sering. Entah apa yang terjadi setelahnya jika kita terlalu sering menyendiri. Saya bukan ahli psikolog, saya hanya manusia biasa yang haus akan ilmu. Saya selalu ingin mencari tahu segala yang sedang terjadi. Karena menurut saya ilmu psikologi, politik, kebudayaan atau apapun itu penting dan dibutuhkan dalam segala hal. Sekecil apapun pekerjaanmu, ilmu tersebut nantinya akan dibutuhkan dan pastinya akan memberi hal positif nantinya...
Saya selalu percaya itu, terkadang, bahkan, saya lelah dengan orang-orang yang mencibir karena pendapatnya di sosial media. 'Ih dia sok ngerti politik banget' 'dah kita mah apa atuh cuma rakyat biasa, gak mau ngurusin begituan' khususnya di bidang politik, tentunya. Memang banyak akhir-akhir ini netizen berpendapat. Menurut saya sendiri, itu hal yang wajar, kita sebagai rakyat juga memiliki kewajiban untuk menjaga negeri Indonesia dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, bukan? Namun harus tetap pada etika bersosial media dan masih berlandaskan ilmu yang dia tahu a.k.a gak asal nyeplos aja. Saya yakin kok, mereka yang berpendapat itu pasti pernah membaca hal yang dia utarakan itu, gak mungkin dong utukutuk dia langsung nyelenong bahas politik tanpa tahu apa-apa. Kalo memang kenyataannya ada yang seperti itu, anda bisa berpendapat yang lain hehehe
Yaitu pendapat saya sih karena sering melihat sosial media. Intinya terserah kalian mau ngomong apa, yang pasti kalian juga harus tanggung jawab dan tahu konsukuensinya kalo berpendapat seperti itu di sosial media. Pro dan kontra itu hal yang wajar sekali, semua orang bebas untuk memihak tim yang mana. Ya tetep, intinya yang penting gak melenceng dari etika bersosial media.
Hm, oke kembali ke topik contemplation itu.
Semakin dewasa ini, saya semakin merasa krisis kepedulian. Semua orang yang awalnya sedekat nadi bisa sejauh bumi dan langit (hiperbola). Tapi ya benar adanya, mungkin karena sudah memasuki dunia kerja kali ya. Lokasi kantor udah jauh, titik temunya entah dimana. Waktupun sudah banyak dihabiskan di kantor. Tapi,sebenarnya masih bisa meluangkan waktu 'jika memang masih ingin banget ketemu'. Misal, saya sering kok setelah pulang kantor ketemuan di cafe terdekat kantor kita. Untungnya, letak kantor kita waktu itu tidak terlalu jauh. Mungkin karena alasan itu kita masih bisa bertemu ya. Hm, tapi saya yakin kalo ada niat pasti masih bisa memanfaatkan dan meluangkan waktu untuk bertemu kok.
Di luar itu, kepedulian terhadap sesama ataupun mkhluk hidup lainnya juga semakin gak karuan. Ada kasus persekusi pemerkosaaan lah, kasih minuman keras ke binatang lah, ada juga yang nabrak tiang listik yang tak berdosa. Duh semuanya menggambarkan matinya perasaan manusia kali ya? (hiperbola lagi). Tapi bener, saya sesedih itu melihat semua berita. Hati nuraninya sudah pada habis dimakan teknologi apa gimana ya?(((
Please, sekaya-kayanya atau sepintar-pintarnya orang, hati nuraninya juga tetap dijaga. Pun kalian tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan, ya itu terserah. Yang penting tetap punya hati untuk menghargai, menghormati kepada siapapun. Dan pertanyaan yang selalu saya pikirkan ketika melihat manusia-manusia itu adalah 'Pernah gak ya mereka membayangkan atau memposisikan diri sebagai objek yang mereka jahatin? Rasanya gimana tuh? Apa kalian akan melakukan hal yang sama seperti mereka (korban)?'
So, please, reflects before you act!
Sekian dari cerita malam ini.


Comments
Post a Comment