Gumam Malam - Kita Berada di Pusaran yang Sama

Selamat malam, Bulan.

Apa kabarmu hari ini? Maaf, malam ini tidak sempat melihatmu. Akhir-akhir ini saya banyak memikirkan hal aneh. Iya, aneh sekali. Banyak orang-orang bertengkar bahkan saling menyakiti satu sama lain (secara fisik maupun mental) karena merasa dirinya benar.

Padahal menurut saya pribadi, sebetulnya dalam pertengkaran tersebut, mereka berada dalam pusaran yang sama dengan tujuan akhir yang sama. Iya, sama-sama berakhir di satu pusaran itu. Namun mereka tidak sadar. Mereka menghabiskan tenaga dengan menghujat membawa namaNya karena perbedaan cara pandang mereka. Tanpa menyadari mereka akan berakhir di pusaran yang sama. 

Begitu banyak hal yang saya pertanyakan atas semua yang terjadi saat ini. Salah satunya, mengapa perbedaan pandangan ataupun pendapat selalu menjadi pertengkaran? Bukankah wajar bahwa setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda? Mengapa perbedaan selalu menjadi percikan api? Padahal kita sama. Kita berada di tujuan yang sama dengan jalan yang berbeda.

Dari lubuk hati terdalam, saya sedih melihat semua ini terjadi. Seakan-akan perbedaan selalu menjadi sebuah ajakan perang. Padahal (lagi-lagi) menurut saya, Tuhan memiliki maksud baik atas perbedaan tersebut. Maksudnya gimana, Ti?

Hm, mari kita bahas lebih lanjut. Saya akan sedikit memberikan pandangan atau analogi ala-ala Asti terhadap perbedaan.

Pernahkah kamu melihat pemandangan kota di malam hari dari gedung yang tinggi? Bagaimana perasaanmu melihat itu?

Langit malam di Bali

Indah. Satu kata itu yang saya lihat di sana. Momen tersebut pula yang selalu saya lihat dari perbedaan.

Saya melihat perbedaan dari atas langit, saya biasa menyebutnya 'Kacamata helikopter'. Iya, dengan kacamata helikopter saya bisa melihat dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu saya memandang keindahan kota dengan caranya masing-masing. Ada yang memancarkan cahaya sangat terang, memperlihatkan keindahan nuansa perumahan yang unik. Ada pula yang redup, malu untuk menjadi pusat perhatian, padahal yang dimilikinya tak kalah indahnya dengan yang kota lain.

Dalam perbedaan pula saya melihat berbagai sudut pandang yang baik atas semua keunikkan yang dimilikinya. Lagi-lagi, dari kacamata helikopter tersebut, saya berada di pusaran tengah. Seakan langit menjadi titik pusaran di malam hari. Di sanalah kita berakhir. Semua cahaya yang dipancarkan ke langit, menjadi sebuah titik akhir cahaya atau keindahan tersebut dipancarkan.

Kacamata helikopter memperlihatkan keindahan atas perbedaan. Di helikopter pula, saya melihat persamaan. Kita berada di tujuan yang sama, di langit yang sama. Hal itu yang kerap kali dilupakan. Kita berada di langit yang sama, tak peduli seberapa jauh cahaya tersebut dipancarkan. Kita berada di langit yang sama. Kita memandang langit yang sama. Kita berada di tujuan yang sama dengan jalur masing-masing.

Begitu pula dengan semua pertengkaran hebat yang selalu jadi perdebatan. Kita saling hujat dengan mengatasnamakan diriNya dan merasa paling benar. Dengan kacamata helikopter pula, saya belajar bahwa tidak ada benar atau salah. Bukan hak-ku untuk menghakimi bahwa jalur A salah dan B salah. Kembali lagi, kita berada di tujuan yang sama, di langit yang sama. Apapun jalaur yang kita tempuh, kita punya tujuan yang sama.

Ketika ada yang bertanya mana yang paling indah di antara kota A dan B, saya tidak bisa menjawab dan menyatakan 'PALING' karena semua memiliki keindahannya masing-masing. Begitu pula dengan jalur yang kita tempuh. Semua punya hal baik dan buruknya masing-masing untuk tujuan yang sama. Kita selalu berakhir denganNya.

Entah, kalian yang membaca ini akan paham atau tidak. Yang pasti, saya ingin menekankan bahwa lihat perbedaan dari atas kacamata helikopter.

Satu lagi, selalu ingat persamaan. Kadang kita lupa melihat persamaan di sekitar kita karena lebih tertarik dengan perbedaan, yang memang lebih kontras terlihat secara visual. Bahkan tidak jarang justru kita benar-benar mengabaikan persamaan. Hal ini yang mengawali perpecahan. Perbedaan mendominasi sehingga merasa dirinya adalah benar. Padahal yang benar di mata diri sendiri belum tentu benar di mata orang lain, apalagi di mata Tuhan.

Sekian dari Gumam Malam #2 kali ini. Menurutku hal yang kupikirkan ini sangat aneh. Karena pembahasan yang menjadi bahan pertengkaran sangatlah esensial. Maksudku, kenapa harus diperdebatkan, tugas kita untuk menyatukan keindahan perbedaan tersebut.

Semoga yang membaca blog ini paham apa maksud dari opini saya di atas. Setelah membaca artikel ini, mohon berikan saya tanggapan tentang apa yang kamu rasakan ketika melihat suatu hal dari Kacamata helikopter yang saya jelaskan di atas. Saya sangat terbuka atas segala pendapat yang kalian berikan.

Selamat malam!
Dari pengagumMu sekaligus sang pencari

Comments

Popular Posts