Gumam Malam - Kenapa Sastra (dan) Rusia?

Zdravstvuyce!
Menya zovut Asti. Mne dvadtsat' tri goda. Sejcas ja zhivu v Jakarte.* 


Kalimat di atas yang selalu saya ucapkan ketika ada orang mengetahui kalau saya lulusan Sastra Rusia. Mereka selalu penasaran 'Bahasa Rusia seperti apa sih, coba dong ngomong pakai bahasa Rusia'. Iya, kalimat di atas pendek banget. Saya begah ditanya terus huehehe. Enggak cuma itu, pertanyaan 'Kenapa Sastra Rusia?' masih sering muncul meskipun sudah setahun saya lulus dari bangku kuliah. Jangankan karena memilih Sastra Rusia, bahkan banyak juga yang nanya 'kenapa Sastra?'. Katanya anak Sastra kan belajarnya gitu-gitu doang. Nah di tulisan kali ini, saya akan cerita banyak kenapa Sastra (dan) Rusia?.

Tulisan ini akan berawal dari...


'Kenapa terpikirkan jadi anak Sastra?'
Menjawab pertanyaan di atas akan saya jelaskan dari masa saya di SMA kelas 10. Saat itu sedang galau-galaunya mau melanjutkan ke jurusan apa. Ada beberapa pertimbangan, karena saya mau melanjutkan ke jurusan yang memang saya sukai, menurut saya, jurusan IPA/IPS/Bahasa akan menentukan kemana saya akan berlabuh waktu kuliah nanti.

Melihat dari hobi atau kesukaan, saya suka sekali dengan hitungan karena menurut saya ilmu itu pasti (sudah ada rumus pasti), jadi saya enggak perlu terlalu berpikir lebih jauh karena sudah ada patokannya. Dari sana saya merasa lebih cocok menjadi anak IPA karena belajar ilmu pasti. Tapi di sisi lain, saya tertarik dengan dunia Akuntansi, yang juga hitung-hitungan, tapi adanya di jurusan IPS. Saat itu saya ingin sekali bisa masuk ke STAN.

Nah di saat galau seperti itu, munculah pencerahan. Ada senior saya anak IPA, yang berhasil masuk STAN. Kabarnya, STAN lebih memilih anak IPA daripada anak IPS. Mendengar hal itu, lantas saya memutuskan untuk menjadi anak IPA. Namun di kelas 12 rencana saya runtuh karena saat itu STAN tidak membuka pendaftaran mahasiswa baru :( Sedihnya bukan main. Saya mesti membuat rencana baru untuk masa depan saya.

Kemudian saya sadar, selama tiga tahun berada di bangku SMA, saya memang sangat tertarik untuk belajar bahasa. Sempat terpikir mengambil jurusan Sastra Spanyol. Sayangnya, jurusan tersebut hanya ada di universitas swasta. Saya enggak mau, masih mau kuliah di negeri :( Hingga akhirnya saya menemukan kelas bahasa Spanyol di UI. Kemudian terlintas di pikiran saya untuk mengambil jurusan Sastra di sana. Kalau saya menjadi anak Sastra di FIB UI, maka saya bisa mendapatkan kelas bahasa Spanyol. Itu pikiran dangkal yang terlintas saat itu. Tapi saya bingung, jurusan apa ya? Karena kuliah enggak sekedar doang, empat tahun lho dan menentukan masa depan saya nanti.

Dengan perdebatan kusir dan diskusi panjang antara keluarga kecil maupun keluarga besar (sepupu, om, dan tante), akhirnya saya memilih jurusan Sastra Rusia! Yep, banyak banget pertimbangannya. Di bagian selanjutnya saya akan saya akan jelaskan beberapa pertimbangannya...

(Karena pilihan tersebut saya dihujat oleh teman-teman yang jurusan IPS diterima di salah satu politeknik Depok karena mengambil lahan Akuntansi dan dibenci anak Bahasa karena berhasil menjadi anak Sastra di Depok HAHAH maafkan)

'Kenapa Sastra Rusia?'

Namanya anak SMA ya, perasaan masih labil banget, jadi ya, awalnya memang ragu, tapi kemudian ada hal yang membuat saya semangat. Tetangga saya ternyata lulusan Sastra Rusia juga dan berhasil. Yep, itu salah satu alasannya yang akhirnya juga membuat orangtua saya setuju (Ya, kita tahulah kadang orangtua terkadang lebih dengerin omongan tetangga daripada anak sendiri :(). Nah, dengan adanya tetangga alumni Sastra Rusia yang berhasil, cukup menguatkan mental orangtua dan mendukung saya.

Pertimbangan yang paling utama kenapa saya pilih Sastra Rusia adalah karena sejarah mereka. Meskipun saya enggak suka-suka banget dengan mata pelajaran sejarah, tapi saya tahu sebelumnya Rusia punya sejarah yang sangat dikenal ketika masa Perang Dingin. Yep, siapa sih yang enggak tahu Uni Soviet? Setiap belajar sejarah Perang Dingin, pasti akan selalu disebutkan. Meskipun telah runtuh, hingga saat ini Rusia punya peran besar juga. Bisa terlihat lha dengan pemberitaan saat ini. Meskipun Perang Dingin telah usai, tapi beberapa kali percikan antara keduanya enggak jarang muncul di pemberitaan media. Hal ini yang meyakinkan saya bahwa Rusia masih punya peran besar di dunia. Sedikit membahas hubungan dengan Indonesia, sejak dulu Rusia juga punya hubungan yang baik dengan Tanah Air jadi ya, kenapa tidak? (Apalagi ketika saya sudah belajar tentang sejarah Rusia di mata kuliah, enggak pernah muncul rasa sesal menjadi anak Sastra Rusia :D)

Selain itu, untuk tingkat dunia, peran Rusia terbukti punya andil. Bisa kita lihat dengan disahkannya bahasa Rusia menjadi salah satu bahasa PBB. Hal ini bisa menunjang karir saya nantinya sebab tidak banyak orang yang bisa bahasa Rusia di Indonesia. Tentu, kesempatan untuk bisa ikut berkecimpung ada. Ditambah lagi hanya ada dua universitas saja yang membuka jurusan Sastra Rusia (UI dan Unpad). Kesempatannya cukup besar. Setidaknya kalau ada beberapa acara yang membutuhkan LO (Liaision Officer) atau Interpreter untuk suatu kegiatan, anak Sastra Rusia dari kedua universitas akan sangat dibutuhkan. (Setuju gak anak Sastra Rusia? ehe)

Alasan terakhir ya, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya kalau saya mau mengambil kelas Bahasa Spanyol di FIB UI. Itu memang alasan receh sih, tapi menjadi penyemangat saya untuk bisa mengenal lebih dalam tentang Spanyol sendiri. Bahkan lambat laun membawa saya ke cita-cita baru, yaitu menjadi seorang Poliglot, orang yang bisa berbicara dan menulis lebih dari tiga bahasa. Saya punya tekad untuk bisa berbahasa Inggris, Jerman, Spanyol, dan Rusia secara fasih. (Namun masih belajar terus, dan terus belajar... :")))

Di atas semua pertimbangan itu, saya enggak menyangka akan mendapatkan banyak hal dari Sastra Rusia. Bersyukur bisa diberikan petunjuk untuk memilih jurusan ini.

Emang apa saja sih yang didapatkan selama menjadi anak Sastra Rusia?

Tunggu cerita lengkapnya di postingan selanjutnya (untuk siapapun kamu yang mungkin ingin tahu jawabannya hahaha), saya akan membahas lebih banyak tentang hal apa saja yang dipelajari oleh anak Sastra, yang katanya belajarnya gitu-gitu doang, lebih tepatnya Sastra Rusia, yang kerap kali masih dianggap sebelah mata oleh orang-orang.

Selamat malam!
Jangan lupa bersyukur dan bahagia.

*(Mohon maaf banyak kesalahan transliterasi, hanya untuk sekedar mempermudah pembaca melafalkannya saja hehe)

Comments

Popular Posts