#GumamMalam - Positivity Toxic is real (Bertemanlah dengan Ketidaksempurnaan)

#GumamMalam - Positivity Toxic is real (Bertemanlah dengan Ketidaksempurnaan)



'Semua ini akan baik-baik aja, kok, pasti.'
'Semangat ya, lo bisa melewati ini semua'
'Ada hal positifnya kok di balik semua ini'
'Semua orang pada dasarnya baik, gue aja yang enggak ngerti celahnya'

Beberapa pernyataan di atas jadi beberapa pernyataan yang selalu saya katakan berulang kali. Berharap dengan mengafirmasi pernyataan-pernyataan di atas, semua perjalanan hidup saya bisa baik-baik saja dan berjalan seperti yang diharapkan. 

Sayangnya, semua itu justru menjadi beban dan membuat saya enggak baik-baik saja. 

Bagi sebagian orang dengan kondisi yang berbeda atau sama, mungkin pernyataan tersebut bisa berhasil. Tapi tidak untuk kondisi saya saat itu. Di saat saya merasa dunia tidak lagi seperti apa yang saya harapkan. Perlahan semua orang berubah, menjauh, seakan-seakan memaksa saya untuk berdiri sendiri, tanpa saya tahu, apa yang mesti saya lakukan selanjutnya. Berbagai rencana yang sudah saya persiapkan tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan, sehingga mengharuskan saya untuk mencari cara lain agar tetap bisa mencapai tujuan saya. Sayangnya, kembali lagi, saya mesti berjalan sendirian. Semua orang yang dikenal perlahan pergi di waktu yang bersamaan, melanjutkan perjalanannya masing-masing. Rasanya seperti tersesat saat itu dan merasa sendirian...

Saat semua itu terjadi, perdebatan batin muncul, menyalahkan diri sendiri. 'Mungkin saya kurang bisa melakukan A, B, C, dan sebagainya' 'Seharusnya saya enggak melakukan ini..' Seharusnya saya bisa lebih baik saat itu'. Saya membuat cerita sendiri dan akhirnya selalu berakhir kepada diri sendiri. Semua terjadi karena saya yang kurang kompeten, sehingga perlahan semua pergi dan meninggalkan saya yang kurang berharga ini. 

Kalimat sakti ini pun hadir dan menjadi salah satu kalimat favorit, yang saya yakini bisa membuat saya lebih baik: "Everything gonna be okay.". Bukannya menjadi lebih baik, justru pernyataan tersebut menjadi racun di hidup saya. Seakan-akan mengajarkan saya untuk kabur dari berbagai permasalahan batin yang saat itu sedang terjadi. Beberapa kali saya merasa sedih tanpa tahu penyebabnya. Saya lebih sensitif, lebih memilih sendiri, dan kontemplasi. Ingin sekali rasanya menumpahkan semua perasaan ini, tapi pada siapa?

Perasaan takut dihakimi bermunculan. Bahkan kepada orang terdekat sekali pun, sulit sekali untuk menggambarkan perasaan saat itu. Aktivitas sehari-hari berjalan seperti biasa, bekerja, berdiskusi. Bersosialisasi dengan orang luar menjadi hal yang tidak biasa. Tertawa menjadi salah satu keharusan, tanpa mengetahui alasan kenapa harus tertawa. Saat itu, hidup terasa milikku dan Dia, 'Tuhan, peluk saya lebih erat...'

Beruntung, selama perjalanan suram itu. Saya menemukan kutipan yang biasa, tapi menjadi tidak biasa di kondisi saat itu. Sederhana, tapi menohok dan menyadarkan saya, kalau hidup harus tetap berjalan. Apapun yang terjadi. 

Saya pun mengambil langkah baik, mengungkapkan segala keluh kesah selama beberapa bulan ini. Berharap salah satu cara ini bisa berhasil dan keluar dari hidup yang abnormal ini. Setelah berkontemplasi dan mencari akar permasalahan ini. Begitu banyak permasalahan kompleks yang tidak pernah seindah yang saya bayangkan.

Singkatnya, selama hidup, saya seperti menambal berbagai kesalahan atau hal negatif, yang telah terjadi dengan segala hal yang saya miliki. Saya percaya bahwa enggak ada orang yang berbicara di belakang saya, enggak ada yang sikut-sikutan dengan saya, enggak ada yang berbohong kepada saya, dan hal positif lainnya. Pun, ada orang yang pernah mengatakan kalau ada orang yang melakukan itu, saya hanya bilang 'enggak mungkin, lah, dia kan baik.'. Saya selalu denial, berusaha positif, dan menambalnya. Namun tanpa sadar, saya sendiri kehabisan alat untuk menambal semuanya. Hingga suatu hari semua tambalan yang ada tak mampu lagi menahannya dan hancur (di saat itu, bahkan saya enggak sadar kalau saya menambal semua itu).

Saat itu lah, saya melihat dunia yang asli. 

Semuanya terlihat, ternyata memang ada banyak hal yang baru saya ketahui selama saya hidup. Banyak hal yang enggak sempurna, seperti apa yang diharapkan. Banyak keragaman yang enggak hanya positif, tapi juga negatif. Tapi mereka masih bisa berteman dan berjalan dengan baik, tanpa merasa sendiri dan ketakutan.

Lalu, kenapa dulu saya harus menambal semua kesalahan orang-orang? Karena saya enggak bisa menerima itu semua, saya terlalu percaya dengan prinsip saya, bahwa semua orang pada dasarnya baik. Jadi, apapun yang terjadi pada saya, saya akan selalu mencari hal positif dan menjalani hidup terus dengan seperti itu. Tanpa sadar, semua itu menjadi racun dalam hidup saya.

Hal yang harus saya pelajari dalam hidup sejak awal itu adalah menerima. Iya, selama ini saya terlalu denial dan kolot dengan prinsip yang terlalu naif. Enggak ada yang sempurna di dunia ini dan hidup dalam kesempurnaan. Itu semua adalah harapan saya di dunia ini. Hingga akhirnya, semua ini terjadi dan menyadarkan saya tentang hidup.

Saya harus bisa menerima semua perjalanan ini. Enggak semuanya harus positif. Saya juga harus bisa menerima kekurangan yang ada dalam diri saya dan orang lain. Hidup enggak selalu baik-baik saja. Selalu ada sisi negatif yang muncul di antara jutaan hal positif. Ada yang datang dan ada juga yang pergi. Meski menyakitkan atau membuat saya sedih, tapi itu yang terjadi, dan saya harus menerima dan menjalaninya. Semangat terus untuk berproses, kita selalu punya cara masing-masing untuk bisa menjalani hidup. Kontemplasi dan melakukan evaluasi diri itu kebutuhan, agar kita tetap bisa beradaptasi dalam menjalani hidup.

Bertemanlah dengan ketidaksempurnaan!

Comments

Popular Posts