Gumam Malam - Jadi Anak Sastra itu, Kadang Enak Kadang Enek


Sebagai anak FIB, saya kadang ngerasa sering banget dianggap sebelah mata, apalagi anak Sastra. Rusia pula. Di postingan sebelumnya, ada sedikit banyak tentang kenapa saya ambil jurusan Sastra dan Rusia. Selengkapnya bisa langsung baca di sini.

Nah, di postingan kali ini, saya mau berbagi jadi rasanya anak FIB yang kadang enak kadang enek. Ya, karena ada baik dan buruknya. Di bagian selanjutnya adalah murni cerita dan pengalaman sendiri, jadi bukan mewakili satu fakultas ataupun jurusan. Cuma mau sharing aja, siapa tahu masih ada orang yang galau mau pilih kuliah jurusan apa yha, kan? hehehe siapa tahu juga, postingan ini bisa jadi cerita, yang mungkin memberikan sedikit bayangan dari pengalaman saya.

Anak Sastra enggak cuma belajar Sastra

Kita mulai dari lingkup terkecil dulu ya, yaitu cerita pengalaman sebagai anak Sastra Rusia. Sedikit cerita sebenernya sudah dibahas di postingan sebelumnya. Tapi di sini saya juga bakal cerita lebih banyak lagi. Sebagai anak Sastra, di sini saya enggak hanya belajar SastraSaya belajar lebih dari sekedar Sastra. Sastra bukan cuma bahas unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam suatu cerita aja. Saya belajar budaya, linguistik (tata bahasa, kalau di matkul lain itu kayak Matematika-nya gitu lha), hingga masyarakat dan pemerintahan di Rusia. Banyak, kan?

Nah, di Sastra Rusia sendiri, cukup dalam membahas sejarah dan pemerintahannya. Mulai dari zaman Kekaisaran sampai Federasi Rusia saat ini. Kami juga belajar bagaimana sistem pemerintahan, budaya, sejarah di sana. Dari matkul tersebut berkaitan pula dengan sastra yang bermunculan di masing-masing era. Pokoknya semuanya saling berkaitan. Jadi, buat orang-orang yang mengira anak Sastra cuma belajar 'Sastra' itu salah besar. 

'Jadi anak Sastra mah gampang.'

Yang ngomong pernyataan di atas juga banyak banget. Nah di sini sekalian saya lurusin ya. Setiap jurusan apapun, enggak cuma sastra, pasti punya kesulitan masing-masing. Dalam Bahasa Rusia sendiri, tata bahasanya itu memang fleksibel bisa dibilang gampang. Kalau dalam bahasa Indonesia dalam satu kalimat yang sempurna mesti SPOK (Subjek, Predikat, Objek, Keterangan), di Bahasa Rusia enggak. Subjek enggak mesti di depan, bisa aja subjek muncul di belakang. Tergantung dengan penekanan si penutur. 

Kesulitannya adalah, kata kerja dalam bahasa Rusia. Mudahnya gini, kalau dalam Bahasa Indonesia, pernyataan ketika orang sedang membaca buku dan telah selesai membaca buku itu kata kerjanya sama-sama menggunakan kata 'membaca'. Perbedaan pernyataan sudah selesai membaca atau belum jadi keterangan tambahan. Nah, kalau dalam Bahasa Rusia, kata kerjanya yang berubah dengan menambahkan sufiks atau imbuhan depan. Imbuhan akan ditambahkan pada kata kerja untuk pernyataan ketika lo 'akan', 'sedang', 'belum selesai membaca', dan 'telah membaca (benar-benar sampai halaman terakhir dan paham betul apa isinya)'. Yes, itu rumit. Belum lagi kalau ternyata kata kerja gerak, kalian berjalan ke suatu tempat satu kali, bolak balik, berjalan, atau naik kendaraan, itu semua masing-masing punya kata kerja yang berbeda-beda. 

Dan dalam kesehariannya di Rusia sendiri, sufiks itu sangat sering dipakai lho. Makanya, di kelas Bahasa Rusia di sana, ada kelas tersenidiri untuk kata kerja gerak. Menarik memang, kalau dipelajari lebih dalam apalagi, memabukkan tapi wuenak hehehe.

Di luar mata itu, matkul anak Sastra Rusia di UI juga menarique. Karena saya bisa belajar banyak tentang sejarah Rusia hingga masyarakat dan pemerintahannya. Kami belajar sedikit ilmu-ilmu politik dan menganalisis kasus HAM yang terjadi di Rusia. Seru banget, kan? Buat kamu yang mau jadi anak Hubungan Internasional (HI) tapi enggak berhasil, masuk Sastra Rusia UI aja. Seru! hahaha nanti S2-nya baru ambil peminatan yang Eropa Timur wqwq. Di Sastra Rusia lah aku yang tadinya enggak tertarik dengan dunia sejarah menjadi jatuh, sejatuh-jatuhnya pada sejarah dan enggak apatis pada dunia sekitar. hehehe

Selain mata kuliahnya, organisasi di jurusan saya juga mengasyikkan. Perdebatan pasti ada, tapi bagi saya sendiri, itu sangat memberikan banyak pengalaman dalam berorganisasi dan leadership. Dari berorganisasi saya berlatih gimana cara bekerja dengan tim, melatih kepemimpinan saya belajar mengkonsepkan mading tiap bulannya, sampe strategi buat media sosial dan desain. Ah, seru banget deh masa-masa itu. Kebetulan saya jadi anak Humas (Hubungan Masyarakat) dan Kominfo (Komunikasi dan Informasi), jadi belajar banyak banget tentang banyak hal. Di sana pula saya jadi tahu mana yang emang kerja karena dia mau ataupun sekedar menjilat aja, eak hahaha.

Lulus jadi anak FIB, bisa kerja apaan?

BANYAAAAAAAAK! Jangan sedih. Anak FIB setelah lulus bisa dapat banyak hal. Again, anak Sastra enggak hanya belajar Sastra, begitu juga dengan jurusan FIB yang bukan Sastra. Enggak munafik, memang itu semua tergantung dengan dirinya masing-masing. Tapi ya balik lagi, di FIB saya belajar untuk terus berproses dengan lingkungan sekitar. Kalau dilihat-lihat emang saya bukan tipe orang yang 'Anak Kansas banget' dan kenal banyak anak FIB. Tapi saya belajar banyak dengan himpunan saya, orang sekitar, dan teman terdekat. Dari situ saya ambil berbagai hal positif sambil mencoba meningkatkan softskill saya. Contohnya tadi, saya ikut organisasi di dalam himpunan. Enggak jarang juga saya suka ikut kepanitiaan di fakultas.

Bagi saya sendiri, di FIB itu beragam banget. Di kansas (Kantin Sastra) aja pembahasannya beragam. Ada yang asik diskusi ringan sampai diskusi berat soal politik. Meskipun beda pendapat, kita masing-masing belajar untuk berargumen yang kuat dengan kapasitas kita masing-masing. Yang paling saya suka sih kalau di kansas tuh selalu rame, ada barang pecah aja langsung rame dengan suara gebrakkan meja atau saling sahut-sahutan, entah sebagai bentuk perayaan atau apa hahaha. Kalau ada yang ulang tahun dan dibuatin surprise di kansas, semua orang bakal ikutan nyanyiin Happy Birthday buat elu yang ulang tahun hahahaha. Receh sih, tapi seru menurut saya.

Yang saya enggak suka di kansas cuma satu, asep yang enggaka da habisnya :( sebagai orang yang enggak terlalu bisa kena asap, ya amat sangat terganggu sih. Jadi ya, palingan cuma minta temen saya supaya enggak merokok di depan saya aja sih. Sisanya, saya suka dengan aktivitas di kansas yang beragam, yang kadang bisa jadi tempat inap kalau misalkan ada kegiatan atau ngerjain skripsi hahaha. Semoga malam itu tidak ada cerita ena-ena yha wqwq

Ehiya, saya sempet bilang di awal kalau jadi anak FIB itu kadang enak kadang enek. Enaknya, saya bisa ketemu beragam manusia, seperti yang udah saya jelasin di atas. Saya belajar jadi open-minded karena mata kuliah yang saya ambil juga beragam enggak cuma bahasa. Ada budaya sampai filsafat. Eneknya, ya kalau ditanya 'Lulusan FIB bakal jadi apaan?'. Ah suek, anak FIB tuh beragam. Mereka punya softskill yang fakultas lain juga punya. Bagi saya sendiri, lulusan anak FIB itu justru fleksibel. Lo bisa ambil kerjaan anak Komunikasi jadi jurnalis bahkan HI (Hubungan Internasional) jadi diplomat. Enggak percaya? Sini saya kenalin sama temen saya yang berhasil di kedua kerjaan tersebut huehehehe

Di atas itu semua, 'Gue Sastra dan Gue Bangga'. Kalimat itu jadi kalimat yang akan terus saya ucapkan sampai kapanpun. Anyway itu bukan kutipan dari saya, tapi dari anak FIB (saya lupa tepatnya siapa hehe).  Saya bangga bisa ketemu beragam orang di FIB, saya bangga bisa belajar bahasa sampai masyarakat dan pemerintahan di Rusia, saya bangga bisa bahasa Rusia, saya bangga belajar linguistik, saya bangga jadi anak FIB pokok'e! Gak ada penyesalan yang hadir menjadi anak sastra (Rusia) dan FIB. Setelah lulus anak Sastra punya banyak skill. Bisa jadi jurnalis, kerja di kedutaan, LO delegasi luar negeri, bahkan diplomat. Tenang, kalian bisa meraih banyak hal. Anak FIB dan Sastra mampu melakukan hal yang enggak bisa dilakukan orang lain. Saya percaya itu. Berbanggalah kalian wahai anak FIB, anak Sastra!

Sekian #GumamMalam hari ini, semoga kita selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Tuhan, peluk kami selalu <3 div="">

Comments

Popular Posts