#GumamMalam - Alasan Kenapa Berhijab

'Kenapa kamu pakai kerudung?Alasannya apa?'

That's the hardest question I've ever had, seriously. ehee. Pertanyaan itu tercetus di waktu yang enggak pernah saya ekspektasikan dan bahkan saya enggak nyangka akan terucap oleh beliau. 'Beliau', iya, istri dari delegasi MK Kazakhstan. Kebetulan, saat itu saya berkesempatan menjadi Liaision Officer (LO) di salah satu agenda MK RI. Saya sangat menghormati beliau, baik banget orangnya. Setiap ada hari perayaan Islam, beliau selalu mengirim greetings duluan ke saya. Anyway, saya biasa memanggil beliau adalah Nyonya ehehe. Jadi, di cerita selanjutnya saya akan menggunakan kata ganti 'Nyonya' ya.

Kembali ke pertanyaan tersulit itu. Jadi, semuanya berawal ketika saya menemani beliau untuk jalan-jalan sekitaran Solo. Di dalam mobil kami memang biasa berbincang bersama, hingga tiba-tiba tercetuslah pertanyaan tersebut. Saya sempat diam sebentar, selain enggak tahu harus jawab apa, saya lebih bingung lagi karena mesti menjawab pakai bahasa Rusia HAHA. Akhirnya saya menemukan jawaban yang sangat netral dan umum. Saya jawab 'Karena saya Islam, kan memang wajib menggunakan hijab.'. Setelah menjawab itu, justru saya makin terkejut dengan balasan nyonya. Beliau bilang 'Saya juga Islam kok. Tapi saya tidak pakai hijab. Alasan kamu kenapa?'. Semakin bingung, akhirnya saya jawab aja yang lebih personal, supaya menghindari pertanyaan selanjutnya dari nyonya ehe. Saya bilang 'Saya ingin lebih dekat dengan Tuhan.'. Hm, jangan tanya kenapa saya menjawab itu, karena hanya kalimat itu yang terpikirkan eheee. Setelah pulang mengantarkan nyonya kembali ke hotel, pertanyaan tersebut masih terngiang di kepala dan memang serumit itu ternyata.

Flashback
Gratis foto sebelum saya berhijab. Ini waktu lagi ikutan Tafakur Alam di SMA kelas 10 hahaha

Jujur, kalau mengingat kembali ke masa sebelum saya berhijab, saya sama sekali tidak punya alasan 'Kenapa memilih berhijab?'. Saat itu saya masih berada di bangku SMA, lebih tepatnya kelas 11 semester dua. Zaman masih labil, masih cinta monyet, baperan, labil lah pokoknya. Sejak kelas 10 saya mengikuti ekstrakurikuler salah satunya, Rohani Islam (Rohis). Tapi lingkungan sekitar saya enggak terlalu islami kok, masih netral. Yang bikin kebetulan lagi, seragam SMA saya dulu kemeja panjang dan rok panjang. Jadi, bagi saya sendiri itu sedikit nanggung sih kalau saya enggak pakai hijab, wong pakaiannya udah mendukung ehee. Itu salah satu pendukung saya kenapa memilih mengenakan hijab.

Sampai pada suatu hari, saya benar-benar ingin mewujudkan pikiran saya itu, mengenakan hijab setiap harinya. Kebetulan lagi, seminggu sebelumnya saya ada kegiatan Rohis, yang mengharuskan saya mengenakan hijab seharian. Setelah terlatih selama beberapa hari mengenakan hijab, akhirnya saya mulai tertarik untuk melanjutkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah, di hari Senin saya mengenakan hijab ke sekolah.

Mulai hari itu saya mulai membiasakan diri mengenakan hijab kemana-mana. Termasuk kalau pergi ke mal. Tapi karena masih belajar, kadang sayang enggan mengenakan hijab kalau hanya ke warung atau ke rumah saudara (soalnya kan di dalam mobil dan rumah doang, jadi saya enggak pakai ehehe). Dari awal saya mengenakan hijab saat itu, semua berjalan normal aja sih. Tapi pernah di Bali, saya di-cat-calling sama warga sekitar maupun orang bule yang di dalam mal. Mereka mengucapkan salam sih, tapi saya tahu itu bukan tujuan mereka untuk mengucapkan salam, melainkan semacam 'ejekan' karena saya mengenakan hijab. Jadi, saya hanya jawab dalam hati, kemudian enggak saya respon.

Selain itu, saya pernah drama sekali. Suatu hari saya baper, beneran baper karena enggak suka dibilang 'Kerudung Dusta (Kerdus)'. Meskipun saya tahu itu bercanda, tapi saya seenggak suka itu dengan hinaan tersebut. Bagi saya, sebutan itu menghina identitas saya, menghina kerudung saya. Setelah teman saya mengatakan hal itu kepada saya, air mata saya mengalir deras begitu saja :"). Sekejer itu saya menangis hingga kelas berakhir, bahkan sampai di rumah saya masih menangis. Yang ada di pikiran saya saat itu, 'Jangan hina kerudung saya, hina saya sepuasnya. Tapi jangan kerudung saya.', tapi saya enggak bisa sampaikan itu. Saya terlalu marah, bahkan sampai enggak bisa ngomong, yang ada malah nangis gak abis-abis ehee. Saat itu juga saya hanya ingin pulang ke rumah bertemu Ibu, that's all. And I did it. Saya langsung minta dijemput pulang. Keesokan harinya saya tidak masuk sekolah. Saya malu. Malu karena dihina seperti itu. Hingga saat itu sampai saat ini, saya masih marah sekali setiap ada orang yang mengeluarkan kata 'Kerdus'. So, please don't you ever say that. :")

Kenapa Berhijab?
Kembali ke pertanyaan awal, 'kenapa berhijab?'. Hingga saat ini sebenarnya saya masih menerka-nerka alasannya. Tapi saya sadar, saya memilih berhijab karena 'saya ingin'. Saya ingin mendekatkan diri padaNya, saya ingin mencari jati diri saya, saya ingin mencari jawaban atas semua pertanyaan yang muncul tentang agama yang saya anut, dan saya harap bisa ingin menjaga diri saya dari apapun.

Setelah bertahun-tahun mengenakan hijab, saya merasa itu sudah menjadi identitas saya, bukan hanya agama yang saya anut. Hijab ada dalam diri saya, ketika itu hilang, mungkin saat itu saya sudah tidak waras atau mengidap penyakit keras. Kalimat itu yang selalu saya ucapkan kepada teman saya, karena bagi saya, salah satu mimpi terburuk yang saya takutkan terjadi adalah ketika saya beraktivitas tanpa menggunakan hijab. Saya sangat takut hal tersebut terjadi.pada saya suatu saat nanti. Saya ingin terus mengenakan hijab hingga akhir hayat. Ini juga yang menjadi salah satu alasan saya mengapa belum bisa melangkah lebih jauh terhadap satu hal. Sebenarnya ini salah, hanya saja saya belum siap untuk melangkah sejauh itu ehee.

Gak dipaksa berhijab kan sama orangtua?
Alhamdulillah, enggak. Semua murni dari saya. Perasaan 'ingin' itu muncul dari hati tanpa paksaan siapapun. Menurut saya sendiri, berhijab itu memang enggak bisa dipaksakan oleh orang lain. Termasuk oleh orangtua. Sebetulnya, itu semua kan hak masing-masing mau memilih mengenakan hijab atau enggak. Mengingatkan boleh, tapi semuanya memang mesti dari diri sendiri. Kalau bukan dari diri sendiri, pasti semuanya bakal merasa enggak ikhlas. Kebetulan, saya punya teman yang mengalami hal tersebut. Jadi, saya paham bagaimana dampaknya kalau mesti mengenakan hijab karena orang lain.

Salah satu contohnya mungkin bisa dilihat di Arab, di mana ada kejadian ketika para perempuan melepaskan hijabnya beramai-ramai. Bagi saya sendiri, itu cukup menyedihkan. Tapi di sisi lain, itu semua terjadi karena mereka diharuskan mengenakan hijab karena kewajiban dari pemerintahannya, bukan karena diri sendiri. Dengan adanya peraturan itu, hijab justru membuat mereka terkekang, bukan aman. Balik lagi, karena mereka diharuskan.

'Kan bisa karena terbiasa, dianya aja kali yang enggak manut sama agama'
Enggak semuanya kutipan tersebut bisa ampuh diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Lagi-lagi kalau dipaksakan, hati enggak nyaman, merasa terkekang, terhambat, bahkan belum merasa hijab adalah bagian dari dirinya, itu semua sia-sia kalau dari diri sendiri saja menolak atau enggak menerima hijab menjadi bagian dari identitasnya. Menurut saya ya percuma. Tapi itu semua tergantung dengan preferensi masing-masing. Hubungan antara kamu dan Dia adalah urusan kalian masing-masing. Tuhan Maha Mengetahui dan Islam yang saya tahu tidak menilai seseorang secara kuantitatif, melainkan kualitatif. Wallahualam.

Again, saya enggak memungkiri kalau mengenakan hijab itu wajib, tapi kalau enggak dilakukan dari hati dan enggak ikhlas, semuanya sama saja. Mengutip dari ucapan Habib Husein Ja'far dalam kanal Youtube Geolive ID, semuanya mesti berawal dari hati baru fisik. Gak ada dari fisik terus hati. Jadi, berhijablah ketika kamu 'ingin', bukan dari dan karena apapun. Biarkan urusan cinta kamu denganNya hanya kamu dan Dia yang tahu. Hubungan kita dengan Dia itu sangat sakral, enggak perlu diumbar. Mengutip ucapan Gus Dur, 'Tuhan tidak perlu dibela'.

(Saya pernah sekali mengumbar dan buka-bukaan gimana rasa cinta saya terhadapNya di sini. ehehe siapa tahu ada yang kepo.)

Merasa aman gak setelah berhijab?
Yes, alhamdulillah, saya selalu merasakan itu. Dalam artian, saya merasa aman dan terjaga secara emosional. Saya punya satu sandaran yang setia menemani saya ketika saya lelah menjalani segala drama kehidupan ini. Kenapa saya mengatakan itu? Karena mengenakan hijab enggak menjamin kamu akan aman dari kejahatan kriminal maupun seksual. Banyak kasus pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan berhijab. Jadi, jangan pernah menyalahkan korban pelecehan seksual karena pakaian yang dikenakan kurang sopan, kurang alim, gak berhijab atau apapun Salahkan otak-otak binal yang enggak bisa dijaga.

'Kurang doa kali tuh, udah berhijab masa masih kena pelecehan seksual'
Coba dicek kampanye #MosqueMeToo ya. Atau bisa cek juga akun Instagram @hollaback_jkt untuk cari tahu kasus pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan-perempuan berhijab panjang. Kalau masih kekeh dengan pernyataan tersebut, yuk ngobrol sama saya :))

Jadi, begitu sedikit perjalanan saya bersama hijab selama 8 tahun. Hingga saat ini, saya masih belajar dan mencari tahu berbagai ilmu seputar agama. Jadi, mohon maaf kalau ada salah kata, jikalau pernyataan di atas ada yang menyakitkan kalian. Tapi kalau ada yang mau menyanggah, mari berdialog. Siapa tahu kita bisa saling bertukar pikiran ehehhe.

Sekian Gumam Malam hari ini, semoga semua curahan hati seputar berhijab bisa memberikan insight kepada kalian yang membaca tulisan ini. Selamat malam dan semoga kita selalu diberikan kebahagiaan yang tiada tara.

Salam dari yang selalu merindukan pelukanNya.

Comments

Popular Posts