#GumamMalam - Beropini Tentang Virus Covid-19 (part 1)

Sumber: Instagram @ifyouhigh

"Kemanusiaan mendahului keberagamaan", jadi kutipan pemantik dalam postingan kali ini, yang disadur dari ucapan Quraish Shihab dalam kanal Youtube Najwa Shihab di salah satu sesi Shihab & Shihab, yang pernah saya tonton tahun lalu.
Kok keberagamaan? Jawabannya ada di dalam postingan part 1 dan part 2 ya.

Awalnya saya masih ragu mau menulis pandangan saya atau tidak. Mengingat kembali, di zaman yang serba digital ini semua pendapat bisa saja jadi bumerang buat diri sendiri. Tapi saya masih merasa kalau enggak ada salahnya untuk menuangkan pikiran dan keresahan saya. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang saya tulis di sini.

Di postingan kali ini, saya mau sedikit berbagi pandangan seputar hal-hal yang baru saja terjadi. Betul, terkait Virus Covid-19, himbauan #dirumahaja, social distancing, dan anjuran untuk solat di rumah. Perlu saya ingatkan kembali, kalau di sini saya hanya rakyat biasa, yang menyuarakan kegelisahan dan pandangan saya pribadi, ada juga sumber dari beberapa artikel/video yang saya konsumsi maupun pengalaman saya secara pribadi.

Sejak akhir Februari lalu, Virus Covid-19 sudah meresahkan dunia. Bermula dari negeri China, yang kemudian menyebar ke berbagai negara, hingga saat ini terhitung lebih dari 10 negara sudah melakukan lock-down agar bisa menghentikan laju penyebaran virus Covid-19. Namun hingga saat ini, Indonesia belum juga mengambil opsi tersebut. Betul, saya setuju, ketika suatu negara menyatakan lock-down akan banyak hal yang terjadi, saya enggak akan bicara banyak seputar lock-down karena saya sendiri belum memahami sepenuhnya.

Di postingan kali ini mari bahas seputar sikap pemerintah menangani Virus Covid-19 hingga perdebatan solat di rumah atau di mesjid.

Hotline Virus Covid-19?

Selama seminggu terakhir ini, Presiden Joko Widodo telah meminta masyarakat agar mulai melakukan social distancing dan melakukan aktivitas #dirumahaja. Tentu, saya mendukung pilihan tersebut. Bagi saya, social distancing dan melakukan berbagai aktivitas #dirumahaja adalah salah satu langkah yang tepat untuk menghentikan laju penyebaran virus Covid-19. Tapi masih ada beberapa hal yang meresahkan saya, yang membuat saya semakin panik dan enggak merasa aman atas sikap Pemerintah maupun masyarakat yang terlalu santuy terhadap virus Covid-19 ini.

Saya sempat berbagi di media sosial, Instastory, terkait keresahan saya terhadap sikap Pemerintah yang kurang sigap menangani masalah ini dan malah justru terkesan menyepelekan. Kenapa? Sejak diinformasikan terdapat dua pasien positif Corona Pemerintah hanya memberi himbauan agar tetap menjaga tubuh agar tetap fit, rajin mencuci tangan, menghindari kontak yang tidak perlu, dan memberikan hotline atau nomor darurat jika masyarakat merasakan gejala virus Covid-19, seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan sesak napas. Hotline?!?!?!?!

Yang benar saja, gejala tersebut juga bisa dirasakan oleh orang-orang yang masuk angin, sakit radang tenggorokan, typhus, pneumonia, dan Demam Berdarah (DBD). Maksud saya, bukannya itu gejala yang sangat umum ya? Gimana saya tahu kalau ternyata gejala ini typhus buka virus Covid-19? Dan kebanyakan dari kita, khususnya bagi saya, itu adalah gejala yang wajar jadi saya enggak akan panik ketika gejala tersebut saya rasakan. Tapi karena virus Covid-19 ini, setiap bersin dan batuk kita akan menjadi panik dan bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah saya penderita Virus Covid-19? Apa yang harus saya lakukan? Menelepon hotline lalu apa? Saya perlu bayar untuk tes Covid-19? Rp700ribu lebih per orang, mahal banget?! Beragam pertanyaan dan asumsi bermunculan, yang akhirnya justru malah mengurungkan niat untuk menelepon hotline tersebut. Ditambah lagi banyak beredar info harga melakukan tes virus Covid-19 secara pribadi, jika kita negatif kabarnya kita akan dikenakan biaya dan tidak diganti oleh pemerintah. Sedangkan yang positif Virus Covid-19 maka tidak dikenakan biaya dan akan langsung diisolasi di RS.

Jadi, menurut saya, memberikan nomor telepon darurat atau hotline kurang efektif untuk bisa meredakan angka penyebaran pandemi Virus Covid-19.

Social distancing dan #dirumahaja efektif nggak sih? Ini waktunya gotong-royong!

Setelah hampir 3 minggu sejak Pemerintah menginformasikan kalau ada 2 pasien positif Virus Covid-19, Presiden Joko Widodo menghimbau agar masyarakat Indonesia melakukan ‘Social Distancing’ dan #dirumahaja. Sebab selang seminggu sejak diinformasikan ada 2 pasien yang positif, angka pasien Virus Covid-19 dan angka kematian terus bertumbuh, hal ini tentu membuat warga semakin panik. Dan akhirnya, pemerintah mengambil langkah untuk social distancing dan #dirumahaja.

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, saya setuju dengan hal ini. Namun ketika Pemerintah sudah menjalankan tugasnya dengan cukup baik, masyarakat Indonesia seakan-akan menolak untuk diajak bergotong royong.

Enggak bisa dipungkiri, pandemi Virus Covid-19 banyak merubah berbagai hal di dunia. Sejak awal diumumkan adanya Virus Covid-19, banyak masyarakat yang mulai ‘panic buying’ dengan berbelanja masker, hand sanitizer, hingga mengisi stok bahan makanan cadangan karena takut keabisan. Padahal situasi saat itu, Indonesia belum terbilang darurat. Tapi karena ‘panic buying’, berbagai stok kebutuhan makanan dan kesehatan ludes dibeli masyarakat. Alhasil memengaruhi angka yang melonjak drastis.

Lagi-lagi masyarakat terlalu egois, seakan-akan hanya mereka doang yang butuh barang-barnag tersebut. Ada orang yang lebih membutuhkan masker daripada kalian, yang membeli barang-barang karena panic-buying. Pasien kanker membutuhkan masker, pegawai kesehatan juga membutuhkan hal tersebut untuk bisa merawat pasien positif Virus Covid-19 di ruang isolasi. Manusia terlalu serakah dan egois untuk bisa memikirkan orang lain di saat darurat seperti ini. Padahal mereka masih bisa hidup tanpa perlu menyetok barang segitu banyaknya di rumah.

Di luar sektor ekonomi, masyarakat lagi-lagi bersikap enggan bergotong-royong untuk membasmi virus Covid-19. Ternyata masih banyak masyarakat yang justru melihat hal ini sebagai jalur untuk berlibur bersama keluarga. Sebab dengan adanya pandemi Virus Covid-19 ini, harga tiket perjalanan ke luar kota hingga keluar negeri dijual dengan harga yang sangat murah. Bagi sebagian orang, itu adalah hal yang tepat untuk jalan-jalan. Bodohnya bukan main.

Saat pemerintah dan pegawai kesehatan berbondong-bondong merawat pasien positif Covid-19 agar bisa segera sembuh, masyarakat lainnya justru memilih untuk keluar rumah dan menikmati liburan. Mereka enggak sadar, bisa saja mereka adalah pembawa virus Covid-19 tanpa gejala, seperti yang terjadi pada kasus Idris Elba, yang positif virus Covid-19 setelah melakukan tes. Padahal dia tidak merasakan gejala apapun. Carrier ini lah yang mengkhawatirkan orang sekitarnya. Kebodohan ini enggak hanya terjadi di Indonesia, di beberapa negara juga terjadi. Makanya, saya bilang manusia bukan warga negara ber-flower aja. Geram melihat orang-orang yang masih keluyuran hanya karena ‘mau ketemu temen’, ‘bosen di rumah aja’, atau berbagai alasan bodoh lainnya.

Di sisi lain saya paham betul, ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk bekerja di luar rumah. Seperti pegawai kesehatan, pegawai bank, hingga ojek online. Saya enggak bisa berpendapat banyak tentang hal ini tapi doa saya selalu menyertai mereka, semoga sehat selalu dan selalu dalam lindunganNya. Aamiiin. Mereka adalah pahlawan sesungguhnya, untuk keluarga, dirinya sendiri, bahkan Indonesia.

Social distancing dan #dirumahaja adalah langkah kecil yang memiliki dampak besar. Kita harus pahami itu. Dengan kita mengisolasi diri di rumah, kita mampu menurunkan angka penyebaran Virus Covid-19 kepada orang sekitar kita. Lagi-lagi, sebab kita tidak tahu dengan siapa kita berhadapan apakah dia carrier virus covid-19 atau justru kita lah sang pembawa virus tersebut? Lewat social distancing ini, kita menjaga diri sendiri maupun orang sekitar kita agar tetap aman dan sehat. Jadi, tolong jangan egois, pikirkan orang terdekat kalian. :”)

Mari lanjutkan ke bagian part 2...karena bagi saya postingan ini terlalu panjang. Jadi, saya buat menjadi dua bagian. Semoga berkenan untuk membaca postingan selanjutnya.

Comments

Popular Posts