Teman Perjalanan yang Sangat Berperan dalam Hidup
Ternyata benar ya, semakin umur bertambah, teman dekat juga semakin berkurang.
Teman yang saya anggap benar-benar teman dekat atau sahabat, mungkin tidak cukup banyak. Awalnya memang merasa sedih karena perlahan orang yang tadinya sangat dekat, bisa sangat jauh karena kurang komunikasi maupun lokasi yang berjauhan. Ditambah lagi, masing-masing dari kita sudah mulai hidup dengan dunianya masing-masing. Jadi, ya, tidak bisa dipaksakan dan dikontrol juga agar mereka bisa tetap bersama kita, betul, kan?
Nah, di postingan kali ini saya akan bercerita tentang beberapa teman terdekat saya.
Pertama, teman SMP. Mereka adalah Juni, Marizsa, dan Fildzah. Pertemanan kami tidak sempurna dan bahkan tidak terlalu sering bertemu layaknya para sahabat. Namun kami tetap saling berhubungan satu sama lain dan mengobrol secara virtual. Tidak jarang, kami juga pergi makan di luar, sekedar untuk saling bercerita tentang kehidupan yang berjalan sangat cepat. Meski kami terpisah sejak lulus SMP dan sibuk dengan masing-masing bidang yang kami tekuni, alhamdulillah, masih ada pembahasan yang layak untuk dibahas bersama dan bahan untuk ditertawakan. Kami sudah sangat mengenal masing-masing karakter, jadi enggak pernah ada rasa sungkan untuk saling menceritakan hal baik dan buruk kepada mereka.
Kedua, teman SMA. Mereka adalah Tyas dan Zakiyah. Mereka berdua jadi teman sekaligus sahabat yang juga menemani perjalanan hidup saya yang turun-naik. Mulai dari kehidupan percintaan hingga spiritual hehehe. Beruntung punya mereka karena bisa menertawakan kehidupan dan mulai hidup lebih ringan dengan menerima keadaan yang terjadi. Meskipun, lagi-lagi, kami banyak perbedaan secara latar belakang pendidikan kuliah dan pendapat lain, tapi kami tetap bisa berdiskusi ringan dan berakhir dengan mempelajari banyak hal. Sangat menyenangkan bisa berada di sekeliling mereka.
Ketiga, teman kuliah. Mereka adalah Ratih, Fidya, dan Sri. Bisa dibilang, mereka lah yang benar-benar menjadi teman terdekat yang melihat turun-naiknya saya setelah menghadapi kehidupan pasca kuliah. Seperti yang sempat saya ceritakan di beberapa postingan, bahwa kehidupan setelah kuliah menjadi salah satu hal yang sangat sulit bagi saya. Dan dalam perjalanan tersebut, mereka lah yang menjadi penenang, advisor, dan semuanya yang bisa menyemangati hingga saya berada di titik ini. Kami berempat sangat kontras, masing-masing punya kepribadian yang sangat berbeda. Tapi kami tetap bersama dan saling menjaga satu sama lain.
Di luar circle itu semua, saya juga punya teman terdekat yang selalu ada saat saya jatuh maupun bangkit. Yaitu Denys dan Tasya. Mereka teman di masa kuliah. Denys benar-benar menjadi teman yang sangat super baik, enggak paham lagi bagaimana cara saya membalas semua kebaikannya. Super baik. Dan Tasya, teman kuliah yang sama baiknya kayak Denys. Teman bercerita seputar keadaan Indonesia yg super rumit hingga membahas drakor. Mereka berdua juga mewarnai perjalanan saya selama ini.
Merekalah yang menemani kehidupan saya hingga sejauh ini. Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan karena telah mempertemukan saya dengan mereka semua. Semoga Tuhan selalu menjaga dan mempermudah perjalanan mereka. Terima kasih Tuhan, terima kasih, terima kasih.


Comments
Post a Comment